Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Negara yang jarang dikunjungi Wisatawan? Inilah Negara Kepulauan Solomon

jubi.co.id


Pernah mendengar tentang negara kepulauan Solomon?

Negara yang diberi nama karena terinspirasi dari Raja Sulaiman yang kaya raya ini berada di Kawasan pasifik. Letaknya tidak terlalu jauh dari negara tetangga kita yaitu papua nugini. Kepulauan Solomon juga dikenal karena memiliki keindahan bawah laut yang sangat menawan.

Kepulauan Solomon atau juga sering disebut dengan kepulauan salomo, adalah sebuah negara kepulauan yang terletak di samudera pasifik. Negara ini terletak di sebelah timur papua nugini dan di barat laut dari negara Vanuatu.

Terdiri dari 6 pulau utama dan lebih dari 900 pulau-pulau kecil di Kawasan oceania, kepulauan Solomon meliputi area daratan dengan total luas 28.400 kilometer persegi, yang jika kita bandingkan dengan luas wilayah di Indonesia, luas daratan dari negara ini hanya setengah dari luas provinsi aceh.

Negara ini mengambil namanya dari nama kepulauan Solomon, yang merupakan kumpulan pulau Melanesia yang juga termasuk didalamnya adalah kepulauan Solomon utara yang lebih di kenal dengan nama pulau bougainville yang secara politik merupakan bagian dari papua nugini.

 

Kepulauan Solomon adalah negara kepulauan terbesar ketiga di wilayah pasifik selatan, negara ini dihuni oleh 652.857 jiwa, dengan 95% penduduknya merupakan etnis Melanesia.

lampukecil.com

Agama kristen adalah agama mayoritas di negara ini dengan presentase penganut mencapai 97% dari total populasi. Kepulauan Solomon merupakan salah satu negara anggota dari persemakmuran inggris, bentuk pemerintahan negara ini adalah monarki konsitusional, dengan ratu Elizabeth II dari inggris sebagai kepala Negara yang diwakili oleh seorang gubernur jenderal yang dipilih oleh parlemen untuk masa jabatan 5 tahun, sedangkan kepala pemerintahan negara ini di pimpin oleh seorang perdana Menteri.

Dalam bidang perekonomian, kepulauan Solomon ditempatkan sebagai negara yang kurang berkembang. Lebih dari 75% Angkatan kerja di negara ini terlibat dalam pertanian subsisten dan perikanan. Pertanian subsisten adalah pertanian swasembada, dimana petani hanya berfokus pada usaha membudidayakan bahan pangan dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri dan keluarga. Sayangnya hanya sekitar 3,9% dari luas pulau yang dijadikan sebagai lahan pertanian.

Sektor pariwisata negara ini merupakan salah satu sektor penunjang ekonomi yang penting di kepulauan Solomon, negara ini di kenal memiliki keindahan alam terutama keindahan bawah lautnya, namun, pertumbuhan pariwisata negara ini terhambat oleh kurangnya infrastruktur dan keterbatasan transportasi.

 

pixabay

Pada tahun 2017, kepulauan solomon hanya di kunjungi oleh sekitar 26.000 wisatawan luar negeri, dan menjadikan negara tersebut sebagai salah satu negara yang paling jarang di kunjungi di dunia. Rekomendasi tujuan wisata di negara ini seperti, pulau rennell yang merupakan pulau atol karang yang terangkat terbesar kedua di dunia, disini pengunjung akan menemukan beberapa spesies flora dan fauna endemik yang langka. Sebagian besar pulau ditutupi dengan hutan lebat sehingga sedikit sekali ruang untuk tempat tinggal.

Matahari terbenam di Danau Tagano serta menyelam dan snorkeling di Teluk Kagaba adalah beberapa aktivitas yang bisa dinikmati oleh para wisatawan.

Selain pulau rennell, tujuan wisata yang tak kalah indah adalah pulau malaita. Malaita adalah keindahan tak tersentuh yang dikelilingi oleh sistem sungai dan hutan tropis. Ada banyak sistem sungai, mata air, air terjun dataran tinggi, serta ngarai yang bisa di jelajahi di sini. kalian juga dapat mengunjungi pulau karang di lepas pantai Malaita Utara. Selain itu, matahari terbenam di Laguna Langa Langa sangat spektakuler.


Sejarah kepulauan solomon

Orang eropa yang pertama kali menemukan wilayah kepulauan Solomon adalah penjelajah asal spanyol yaitu alvaro de mendana de neira pada tahun 1568.

Lukisan Álvaro de Mendaña y Neira | Wikipedia.org


Namun jauh sebelum kedatangan bangsa eropa ke wilayah tersebut, pulau ini sudah dihuni oleh orang-orang dari bangsa Lapita Austronesia setidaknya sejak sekitar 1200 hingga 800 tahun sebelum masehi. Hal tersebut berdasarkan dari penemuan sejumlah situs pemakaman kuno dan bukti pemukiman permanen lainnya yang telah ditemukan dari periode 1000–1500 masehi di seluruh pulau, salah satu contoh paling menonjol adalah kompleks budaya Roviana yang berpusat di pulau-pulau di lepas pantai selatan New Georgia, di mana sejumlah besar kuil megalitik dan bangunan lainnya dibangun pada abad ke-13.

Pada tahun 1595, bangsa spanyol datang lagi ke wilayah tersebut dengan tujuan untuk menjajah pulau-pulau itu, mereka kemudian mendirikan pemukiman spanyol di teluk gracioso, namun hubungan yang buruk dengan penduduk asli dan juga adanya endemi penyakit diantara orang-orang spanyol yang menyebabkan banyak kematian, orang-orang spanyol kemudian memutuskan untuk meninggalkan wilayah tersebut dan berlayar ke utara menuju wilayah spanyol di filipina.

Pada tahun 1884, jerman menguasai wilayah timur laut papua nugini dan kepulauan Bismarck, lalu memperluas kekuasaan mereka atas kepulauan Solomon utara yang meliputi pulau bougainville, buka, Choiseul, santa Isabel, shortlands dan atoll otong java pada tahun 1886. Pada tahun yang sama jerman dan inggris menandatangani kesepakantan atas pembagian wilayah kepulauan Solomon dimana inggris mendapatkan wilayah pengaruh di Solomon bagian selatan.


Pada tahun 1900, berdasarkan ketentuan konvensi tripartit tahun 1899, jerman menyerahkan Solomon utara kepada inggris, kecuali pulau bougainville dan buka, yang kemudian menjadi bagian dari nugini jerman, meskipun secara geografis pulau-pulau tersebut termasuk kedalam kepulauan Solomon.

Pada awal tahun 1900-an, banyak kasus pemukim eropa yang di bunuh oleh penduduk asli kepulauan tersebut. Pihak inggris kemudian membalas tindakan tersebut melalui hukuman kolektif terhadap desa-desa yang bersalah dan sering kali tanpa pandang bulu dengan menembaki desa-desa di daerah pesisir dari kapal perang inggris.

Pada tahun 1927, komisaris distrik William bell di bunuh di wilayah Malaita, Bersama dengan beberapa anak buahnya yang sedang menjalankan tugas. Merespon hal tersebut pemerintah inggris kemudian menanggapinya dengan melancarkan ekspedisi hukuman besar-besaran, yang kemudian dikenal dengan pembantaian Malaita. Sedikitnya sekitar 60 orang dari etnis kwaio terbunuh dalam ekspedisi tersebut dan sekitar 200 orang ditahan oleh pasukan inggris.

Selama ekspedisi tersebut banyak situs serta benda keramat penduduk asli yang dihancurkan atau dinodai. Selama perang dunia II, pada tahun 1942 hingga akhir tahun 1943, Kepulauan Solomon adalah tempat terjadinya beberapa pertempuran besar di darat, laut, dan udara antara Sekutu dan angkatan bersenjata Kekaisaran Jepang.

Pada Mei 1942, Jepang melancarkan Operasi Mo menduduki Tulagi dan sebagian besar Kepulauan Solomon barat, termasuk Guadalkanal. Pemerintahan Inggris telah pindah ke Auki, Malaita dan sebagian besar penduduk Eropa telah dievakuasi ke Australia.

Beberapa pertempuran paling sengit dalam Perang Dunia II terjadi di pulau-pulau itu selama hampir tiga tahun. Konflik tersebut mengakibatkan ribuan kematian Sekutu, Jepang, dan sipil, serta kehancuran besar-besaran di seluruh pulau. Stabilitas dipulihkan selama 1950-an, ketika pemerintah kolonial Inggris membangun jaringan dewan lokal resmi. Pada platform ini, penduduk Kepulauan Solomon dengan pengalaman di dewan local mulai berpartisipasi dalam pemerintahan pusat, awalnya melalui birokrasi dan kemudian, dari tahun 1960, melalui Dewan Legislatif dan Eksekutif yang baru dibentuk.

Pada pemilu yang diadakan pada tahun 1970 pemerintah juga memperkenalkan konstitusi baru. Konstitusi tahun 1970 menggantikan Dewan Legislatif dan Eksekutif dengan satu Dewan Pemerintahan. Ia juga membentuk sistem komite pemerintahan di mana semua anggota Dewan duduk di satu atau lebih dari lima komite. Tujuan dari sistem ini adalah untuk mengurangi perpecahan antara perwakilan terpilih dan birokrasi kolonial, serta memberikan kesempatan untuk melatih perwakilan baru dalam mengelola tanggung jawab pemerintahan.

Pada tahun 1974, sebuah konstitusi baru diperkenalkan lagi di wilayah tersebut, konstitusi ini menetapkan bentuk standar pemerintahan Westminster dan memberikan tanggung jawab Kepada Menteri dan Kabinet kepada penduduk pulau. ketidakpuasan tumbuh di pulau-pulau Barat, dengan banyak ketakutan akan marjinalisasi di masa depan negara yang didominasi Honiara atau Malaita, mendorong pembentukan Gerakan Pembebasan Barat. .

Pada tahun 1977, Sebuah konferensi diadakan di London, hasil dari konferensi tersebut setuju bahwa Solomon akan memperoleh kemerdekaan penuh pada tahun berikutnya.

Di bawah persyaratan Undang-undang Kepulauan Solomon 1978 negara itu dianeksasi ke dalam kekuasaan Yang Mulia atau majesty dominions dan diberikan kemerdekaan pada 7 Juli 1978.

Perdana Menteri pertama adalah Sir Peter Kenilorea dari Partai Persatuan Kepulauan Solomon, dengan Ratu Elizabeth II menjadi Ratu Kepulauan Solomon , diwakili secara lokal oleh Gubernur Jenderal.